Wednesday, July 17, 2019

Buat yang Pernah Patah Hati, Jadikan Kisah Salman Al - Alfarisi Ini Sebagai Inspirasi

Pict : titiknol.co.id

Ada begitu banyak kisah cinta umat manusia, diantaranya ada yang berakhir bahagia, tetapi tak sedikit pula yang merana. Mencintai berarti mengambil risiko untuk patah hati. Begitu pula yang dialami seorang sahabat Nabi, Salman al-Farisi.

Siapa yang tak kenal Salman al-Farisi, sosok laki-laki gagah berani nan cerdas yang mengusulkan strategi penggalian parit dalam perang Khandaq bersama Rasulullah. Ide briliannya ini membuat namanya disorot seluruh umat muslim dunia. Namun siapa sangka, dibalik kemasyhurannya, pria asal Isfahan Persia (kini Iran) ini juga pernah merasakan patah hati karena seorang perempuan yang amat dicintainya.

Saat itu, Salman diam-diam menaruh perasaan pada seorang muslimah kalangan Anshar (Penduduk asli). Demi menyempurnakan sunnah Nabi Saw, Salman pun memantapkan hati untuk melamar pujaan hatinya. Tetapi karena ia bukanlah penduduk asli Madinah, Salman belum mengetahui bagaimana adat dan budaya yang diterapkan untuk melamar seorang perempuan Madinah.

Salman akhirnya meminta sahabatnya, Abu Darda untuk menemaninya mengkhitbah (melamar) pujaan hatinya. Betapa bahagia Abu Darda ketika mendengar niat baik sahabatnya. Tanpa berpikir panjang, Abu Darda langsung menyanggupi permintaan sahabatnya.

Keduanya pun pergi ke rumah sang perempuan dengan hati bahagia. Setibanya di sana, orangtua perempuan tersebut menerima dan menjamu keduanya dengan baik. Abu Darda pun memperkenalkan dirinya dan sahabatnya ini, serta menyampaikan maksud baik sahabatnya yang ingin meminang putri mereka.

Betapa bahagia sang ayah mendengar tujuan mulia sang lelaki di hadapannya. Namun ia tak serta merta menerima lamaran laki-laki Persia tersebut. Ia kembalikan keputusan itu kepada anaknya, karena bagaimanapun sang anak memiliki hak untuk memilih siapa yang kelak akan menjadi imam hidupnya.

Sang putri akhirnya menyatakan pendapatnya kepada kedua orangtuanya. Sedangkan Salman dan Abu Darda menunggu dengan hati berdebar-debar. Dalam hati, Salman berdoa agar maksud hatinya disambut baik dengan perempuan idamannya.

Beberapa saat kemudian, sang ibu akhirnya angkat bicara,“Mohon maaf kami harus berterus terang, dengan penuh hormat putri kami tidak bisa menerima pinangan ananda Salman al-Farisi”.

Jawaban dari sang ibu bagaikan petir di siang bolong. Hancur sudah harapan Salman untuk hidup bersama dengan pujaan hatinya. Belum juga tersadar dari kenyataan, Salman kemudian mendengar ucapan yang lebih perih lagi.

Sang ibu melanjutkan “Namun karena kalian berdua datang untuk mengharap ridho Allah. Jika saudara Abu Darda memiliki tujuan yang sama, maka putri kami akan bersedia menerimanya”.

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah yang dirasakan Salman. Begitu terkejutnya Salman mendengar perkataan sang ibu. Tidak cukup dengan penolakan cinta, Salman juga harus menerima kenyataan pahit bahwa perempuan yang diidam-idamkannya justru lebih memilih Abu Darda, sahabatnya sendiri.

Namun siapa sangka, dalam keadaan patah hati Salman al-Farisi bukan justru membenci sahabatnya. Ia malah ikut berbahagia. Dengan ikhlas dan tegar, Salman melepaskan harapannya seraya berkata,“Semua mahar dan nafkah yang sudah aku persiapkan ini aku serahkan kepada Abu Darda. Dan aku pula yang akan menjadi saksi pernikahan mereka”.

Betapa besar kemuliaan hati Salman al-Farisi. Ia sadar bahwa cinta kepada manusia tak boleh melemahkan imannya. Kekuatan Salman bukan hanya terlihat dari fisiknya, tetapi juga dari hati dan imannya.

Salman Al-Farisi juga sangat paham arti persahabatan sejati. Tak sedikitpun rasa benci kepada Abu Darda terbesit di hatinya. Ia justru turut berbahagia ketika sahabatnya bahagia. Coba bayangkan, betapa banyak kasus persahabatan yang rusak karena cinta. Namun Salman tetap menjaga kokoh persahabatannya hingga akhir hayatnya[].

Kenali Tanda Hati yang Keras dan Cara Melunakkannya

Pict : hidayatullah.com

Pernahkah kita terbukti bersalah namun sukar sekali mengeluarkan kata maaf? 
Alasannya: orang yang dimintai maaf lebih muda dari kita, lebih miskin dari kita, atau status jabatannya lebih rendah dari kita. Jika kita penah mengalami demikian atau menyaksikan orang yang berperilaku begitu, sesungguhnya kita telah mengidap penyakit hati yang keras.

Surat Al-Baqarah ayat 67-74 mengambarkan kondisi penyakit tersebut ketika mengisahkan tentang Bani Israil. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang sulit menerima kebenaran meskipun bukti nyata telah hadir di depan mata. Hati mereka mengeras seperti batu, bahkan bisa lebih keras lagi.

Penyakit ini susah disembuhkan karena yang mesti dihadapi penderitanya adalah dirinya sendiri. Egoisme, gengsi, atau perasaan paling istimewa, biasanya menjadi biang keladi mengapa hati seseorang membatu sehingga sukar dimasuki kebenaran dan kebaikan yang datang dari luar dirinya. Namun, susah disembuhkan bukan berarti tidak bisa diobati. 

Suatu hari seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang hatinya yang keras (qaswatul qalb). Nabi menjawab:

إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم

Artinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah menganjurkan orang yang keras hatinya untuk melatih diri berempati dengan orang-orang lemah. Empati tersebut diwujudkan salah satunya dengan memberi makan orang miskin.

Makan adalah di antara kebutuhan primer (hâjiyât) setiap manusia. Penghasilan orang miskin sering hanya bisa mencukupi keperluan pokok tersebut tanpa bisa menambah kebutuhan sekunder lainnya. Lebih dari miskin disebut faqîr. Keduanya merupakan kelompok rentan yang sama-sama membutuhkan uluran tangan.

Ibnu Rajab al-Hanbali saat menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa bergaul dengan orang-orang miskin dapat meningkatkan rasa ridha dan syukur seorang hamba atas nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Sebaliknya, bergaul dengan orang kaya potensial membuatnya kurang menghargai rizeki yang diterimanya.

Selanjutnya adalah mengusap kepala anak yatim. Kata “mengusap” di sini merupakan kiasan dari anjuran untuk menyayangi, berlemah lembut, dan mengayomi mereka. Tentang hal ini, Nabi bersabda:

من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله ، كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ، ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده ، كنت أنا وهو في الجنة كهاتين ، وقرن بين أصبعيه

“Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan hanya karena Allah, baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu mengalirkan banyak kebaikan, dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, aku bersama dia di surga seperti ini (Nabi menyejajarkan dua jarinya).”

Dalam hadits itu, Allah memberikan kebaikan kepada orang-orang yang mengusap kepala anak yatim. Jumlah rambut di hadits ini merupakan ilustrasi dari kebaikan yang tak terhitung sebagaimana tak terhitungnya jumlah rambut kepala orang. Artinya, sebanyak apa kebaikan seseorang kepada anak yatim, sebesar itu pula Allah berikan kebaikan kepadanya. Inilah mengapa hati yang keras menjadi mudah melunak, terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan. Sebab, Sang Penguasa Hati sedang berada di pihaknya. 
Wallah a’lam [].

*diintisarikan dari berbagai sumber 

Monday, July 15, 2019

Menebar Benih Berbuah Kualitas

Pict : forletnews.com

Hidup adalah kausalitas interaksi antara hamba dengan Allah dan antara sesama hamba (makhluk). Hidup bukan mono interaksi, akan tetapi multi interaksi. Seorang yang hebat karena ada bantuan dari sejumlah interaksi dan adanya individu yang tak berkualitas. Namun, kesemuanya harus berinteraksi harmonis, bukan membangun tembok strata yang menimbulkan ketidakharmonisan dengan baju keangkuhan.

Bila hidup ingin berkualitas dengan sejumlah prestasi berdimensi keummatan, awali hidup dengan menebar kualitas kekhalifahan. Berupaya menjadikan orang lain berkualitas akan mengkokohkan kualitas diri. Hidup bukan membangun kualitas pribadi dengan menghancurkan orang lain. Atau seseorang tak dikatakan hebat bila menjadikan diri hebat, namun pada waktu bersamaan membodohi yang lainnya.

Berbagi benih prestasi pada orang lain agar juga berprestasi akan lebih berarti. Dalam hidup ini, tatkala menebar benih kebaikan pada sesama, maka akan berbuah kebaikan bersama. Menebar benih prestasi pada sesama, maka akan berbuah prestasi bersama. Baginya, kehidupan yang berbagi kebaikan akan berbuah kebaikan. Kaca prestasi hidup bila orang cerdas bila mampu mencerdaskan orang lain, orang bahagia bila mampu membahagiakan orang lain, bahkan orang berhasil bila mampu mensejahterakan orang lain. Demikian indahnya bila hidup menebar kebaikan.

Berbeda dengan pola hidup makhluk berbudaya rendah. Mereka hanya ingin berprestasi sendiri tanpa mau disaingi, berkuasa sendiri tanpa mau melakukan pembinaan atas kuasa yang dimiliki. Menebar benih ketidakadilan, namun mengharap keadilan. Menebar benih kebencian, namun mengharap dihormati dan disayangi. Menebar benih keserakahan, namun mengharap kesejahteraan. Tipikal ini merupakan tipikal kepribadian Qobil. Menebar kejelekan, namun mengharap surga Allah. Jadilah diri bagai Habil yang memiliki kecerdasan mumpuni. Menebar kebaikan untuk mengharap posisi terbaik di hadapan Robbi.

Penebar benih kebaikan atau kebencian tak bisa dilihat pada tampilan asesoris lahiriyah. Bisa jadi tampilan bagai dewa turun dari kahyangan dan peradaban tinggi, namun sesampai di bumi ternyata hanya membawa benih keburukan dan kebencian angkara murka. Mungkin saja tampilan biasa nan kumal yang datang dari tengah sawah, namun benih yang disebarkan adalah padi berkualitas unggul, maka akan tumbuh padi bernas yang berkualitas. Hasil tanamannya bukan hanya dinikmati oleh manusia, namun semua makhluk Allah di muka bumi dapat merasakan manfaatnya. Orang yang mengukur dirinya mulia dengan kacamata kesalehan, namun melihat orang lain dalam kacamata hitam serba kesalahan, merupakan ciri pribadi kerdil yang mencoba menutupi ketidakmanpuan diri berprestasi. Prestasinya hanya kehebatan penuh propaganda provokatif dan miskin hasil.

Belajarlah dengan filosofi padi. Padi dikatakan berkualitas bila semakin merunduk. Merunduk padi merupakan bentuk kesyukuran (sujud) dan pengabdian pada Ilahi. Butiran bernas dipersembahkan untuk dinikmati seluruh makhluk guna menunjang fungsi kekhalifahan yang disandang. Jangan hidup berguru dengan ilalang. Berbunga putih tanpa aroma dan berdiri kokoh tanpa membawa berkah.

Begitu sulitkah untuk saling menghargai dan membantu sesama dalam berbagi karunia Allah ? Masihkah tersisa rasa dan asa untuk menjadi citra hamba yang membangun peradaban berdimensi kerahmatan ?
Wa Allahua’lam bi al-shawwab[].

Sanad : Prof. Dr. H. Samsul Nizar

Belajar dengan Langit dan Bumi

Pic : menatahidup.com

Pepatah mengatakan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Pepatah yang mengisyaratkan agar manusia memiliki kearifan lokal di mana pun mereka berada. Namun, tulisan ini bukan membahas pepatah tersebut. Akan tetapi belajar dengan langit dan bumi untuk menjadi i’tibar dalam kehidupan sesaat.

Langit meski tinggi, namun tak pernah angkuh karena ketinggiannya dan tak pernah memanfaatkan ketinggiannya untuk menzhalimi makhluk dibawahnya. Bahkan, langit justru memberi keteduhan dengan menampilkan warna yang indah nan menyejukkan untuk dinikmati oleh mata. Langit dengan ketinggiannya bagai pelindung dengan mencurahkan sejumlah rezeki kepada seisi bumi.

Langit menurunkan hujan yang sangat didambakan oleh semua makhluk hidup. Meski tinggi, langit tak pernah meremehkan apatahlagi berkata kasar pada bumi yang letaknya jauh di bawah. Demikian indahnya gambaran yang diajarkan langit dengan posisinya yang tinggi.

Sedangkan bumi, meski berada di bawah, tak pernah merasa iri, apalagi melancarkan rangkaian fitnah pada langit agar dirinya terangkat. Bumi, meski dipijak dan dikotori oleh makhluk, namun bumi tak pula pernah dendam apatahlagi membalas perlakuan makhluk atasnya. Meski makhluk berlaku zhalim padanya, namun bumi siap “memeluk dalam perutnya” tatkala makhluk mati. Bahkan, bumi “memuncratkan” sejuta kenikmatan rezeki untuk dimanfaatkan oleh semua makhluk yang mendiaminya.

Bumi sadar akan kontribusi langit atas dirinya dengan curahan hujan dan melindunginya dari panasnya matahari. Bumi seakan tak mau hanya menjadi “tangan di bawah” dengan posisi pasif atas langit. Akan tetapi bumi menyumbang kekuatan yang ada pada dirinya pada langit. Dengan berbagai tumbuhan yang tumbuh kokoh dipundaknya, bumi memberikan kontribusi pada langit nilai-nilai kesejukan dan alami. Langit dan bumi keduanya saling mengerti. Bila langit gagal melaksanakan tugasnya, berarti bumi ikut berkotribusi tak memberikan “suplemen” pada langit. Demikian pula sebaliknya, bila bumi kering kerontang, maka langit ikut berkontribusi atas kegagalan bumi melaksanakan tugasnya karena langit tak pernah menurunkan hujan setetespun ke bumi.

Langit dan bumi mengerti benar fungsi dan kedudukan masing-masing sebagai hamba yang diciptakan Allah. Mereka saling mengisi dan bekerja sesuai tugas dan fungsinya. Keduanya saling berintegrasi tanpa melihat posisi masing-masing. Keduanya sibuk dengan tugasnya masing-masing sebagai ciptaan Allah untuk memberikan yang terbaik pada semua makhluk.

Sepertinya langit dan bumi ingin mengajarkan pada manusia agar bijak mengambil i’tibar dari komposisi dan posisi keduanya. Meski beda, namun perbedaan tak membuat keduanya saling iri. Tampilan keduanya merupakan komposisi ciptaan Allah yang memunculkan nilai-nilai rahmatan lil ‘aalamiin.

Langit dan bumi yang demikian besar dan luas tak menganggap dirinya hebat dengan saling melempar fitnah dan kezhaliman. Lalu, bagaimana makhluk (antaranya manusia) yang dilihat pada ukuran demikian kecil dan dilihat pada letak berada di antara langit dan bumi ? Masihkan sanggup pongah dengan posisi, saling iri dan mencaci maki, melancarkan fitnah yang bertubi-tubi, merasa paling benar dan suci, merasa paling adil dengan pesan sponsor yang mengitari, membangun opini tanpa koreksi, atau selalu menyalahkan tanpa pernah memperbaiki ? Kalau masih sanggup berlaku demikian, maka wajar bila malaikat ragu atas kekhalifahan manusia. Seyogyanya manusia yang dianugerahkan akal dan hati menjawab keraguan malaikat dengan benar-benar melaksanakan tugas kekhalifahan yang diamanahkan oleh Ilahi.
Wa Allahua’lam bi al-shawwab[].

Sanad : Prof. Dr. H. Samsul Nizar

Thursday, July 4, 2019

Tepuk Tepung Tawar Haji; Potret Sikap Moderasi Orang Melayu dalam Beragama


Ada satu tradisi yang cukup populer di kalangan masyarakat melayu dalam kaitannya dengan ibadah haji, yaitu tepuk tepung tawar bagi calon haji. Tepuk tepung tawar adalah prosesi dalam adat istiadat melayu dengan menepuk-nepukkan bedak pada punggung telapak tangan seseorang dan menabur-naburkan, beras putih, bertih, beras kuning dan bunga rampai ke seluruh badannya.

Tepuk Tepung Tawar pada hakikatnya sebagai perlambang mencurahkan rasa kegembiraan dan rasa syukur atas nikmat [keberhasilan], hajat, acara atau niat yang akan dilaksanakan baik terhadap benda yang bergerak (manusia) maupun benda mati yang tidak bergerak.

Orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji dalam pandangan orang-orang Melayu adalah para tetamu Allah [dhuyuf al-Rahman atau Wafd Allah] karena itu mereka patut dimuliakan dan dihormati. Selain itu mereka akan melakukan perjalanan jauh, meninggalkan kampung halaman dan keluarga berhari-hari kalau dahulu berbulan-bulan agar perjalanan mereka berjalan aman dan lancar serta hajat mereka terkabul perlu didoakan.

Tradisi tepuk tepung tawar bagi jemaah calon haji ini menunjukkan persebatian antara nilai agama dan nilai budaya dalam praktek keseharian orang-orang Melayu. Fenomena seperti ini juga tampak dalam rentang kehidupan orang-orang Melayu mulai masa kelahiran sampai kematian.

Fenomena-fenomena ini menggambarkan sikap moderasi orang-orang Melayu dalam beragama. Mereka bisa menerima nilai-nilai budaya sebagai anasir yang tak terpisahkan dalam praktek kehidupan mereka. Sementara pada sisi lain, secara personal mereka adalah orang-orang yang taat beragama.

Sikap moderasi dalam beragama yang ditunjukkan oleh orang-orang melayu ini harus dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Seiring perkembangan zaman dan keadaan tak tertutup kemungkinan masuk dan berkembangnya nilai-nilai atau faham-faham baru di kalangan masyarakat melayu yang mempengaruhi cara pandang dan sikap keagamaan mereka. Sehingga terjadi penolakan terhadap praktek tradisi karena dianggap sesuatu yang tidak ada dasarnya menurut ketentuan agama. Kalau ini sampai terjadi, maka secara perlahan-lahan orang-orang Melayu akan kehilangan identitas kebudayaan mereka.

Aura penolakan tersebut saat ini sudah mulai terasa meskipun masih dalam skala kecil dan terbatas. Akan tetapi lambat laun akan berkembang menjadi lebih besar lagi. Kalau sudah sampai ke level itu, maka praktek tradisi dalam masyarakat melayu itu hanya akan menjadi kenangan-kenangan dalam memori kolektif orang-orang melayu dan catatan-catatan dalam buku-buku sejarah. 
Wallah A'lam[].

Sanad : H. Amrizal, MA

Tuesday, June 25, 2019

Adakalanya Kita Harus Diam dengan Tetap Mengamati


Saat saya mengobrol dengan salah satu teman, ketika itu kami sedang membahas tentang perpolitikan Indonesia. Ditengah obrolan tiba-tiba teman saya mengungkapkan sebuah kalimat yang menurut saya kurang tepat. Kalimatnya kira - kira seperti ini “Politik itu kejam, politik itu kotor, politik itu buruk”.

Dari kalimat tersebut, muncul semangat saya untuk menuliskan ini, sebab saya tidak sependapat dengan ungkapan teman saya itu. Ya, menurut saya ia hanya melihat politik dari sisi luarnya saja. Padahal jika ungkapan seperti itu dibenarkan maka tak menutup kemungkinan muncul sebuah anggapan bahwa para Politisi semua buruk. Sebuah ungkapan yang menurut saya terlalu menggebu-gebu, sebab tidak semua politisi itu buruk. Ada pula mereka yang berniat berjuang untuk bangsa melalui jalur politik ini. Nah para politisi ini tergolong sebagai penjaga negara dari orang-orang yang berusaha memecah belah bangsa ini.

Kita perlu belajar dari sebuah kisah antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir. Dengan tujuan, supaya tidak mudah menjustifikasi, menilai atas pada yang tampak saja. Karena yang kita lihat bisa benar dan bisa juga salah.

Pada suatu hari Nabi Musa mendapat pertanyaan dari seorang kaumnya, “Apakah ada seorang lebih pintar darimu (Nabi Musa)?” lantas Nabi Musa pun menjawab “Tidak ada”.

Jawaban Nabi Musa yang terlalu menggebu-gebu itu membuat Allah menyuruh Malaikat Jibril untuk mengingatkannya. Ditemuilah Nabi Musa oleh Malaikat Jibril, kemudian berkata pada Nabi Musa “Wahai Musa, tidakkah engkau mengetahui di mana Allah SWT meletakkan ilmu-Nya?”

Atas pertanyaan tersebut akhirnya Nabi Musa sadar atas ungkapan yang baru saja diutarakan pada umatnya tadi.

Kemudian Malaikat Jibril berkata kepada Nabi Musa “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai seorang hamba yang berada di Majma al-Bahrain yang dia lebih alim daripada kamu.”

Dari ungkapan Malaikat Jibril itu, Nabi Musa berkeinginan untuk menemui orang itu. Lantas ia mendapat perintah untuk menemuinya pada tempat dimana orang itu berada.

Berjalanlah Nabi Musa bersama pembantunya pergi menuju tempat tersebut dengan membawa ikan di keranjang. Dan sesampainya di sebuah batu besar,Nabi Musa dan pembantunya tertidur, sedangkan ikan yang mereka bawa telah melompat ke laut. Si pembantu lupa memberi tahu hal itu kepada Nabi Musa. Setelah terbangun, mereka melanjutkan perjalanan.

Sampai di suatu tempat, Nabi Musa meminta pembantunya untuk mengeluarkan ikan dan makanan. “Wahai Musa, saat kita berada di batu besar, aku lupa dan setan membuatku lalai untuk memberitahumu, ikan itu hanyut dengan unik.”

Kemudian mereka kembali dan menelusuri jejak hingga sampai di batu besar tadi. Tiba-tiba terlihat sosok laki-laki. Nabi Musa memberinya salam dan memperkenalkan diri. “Aku mencarimu untuk belajar kepadamu.”

Lantas Nabi Khidir berkata, “Musa, engkau tidak akan mampu bersabar mengikutiku.” Nabi Musa pun berkata, “Insya Allah aku mampu bersabar dan tidak akan membantahmu”. Nabi Khidir kembali berkata,“Jika benar ingin bersamaku, jangan banyak bertanya sampai aku sendiri memberitahumu.”

Kemudian keduanya pun pergi menyusuri pantai. Di sana mereka melihat sebuah kapal lalu ikut di dalamnya. Hingga saat mendekati tempat tujuan, Nabi Khidir membuat lubang di kapal itu. Nabi Musa menegurnya. “Mereka ini mengangkut kita tanpa upah, mengapa engkau melubangi kapal ini dan membahayakan kita semua?” Nabi Khidir menjawab, “Aku telah katakan, engkau tidak mampu sabar bersamaku.”

Nabi Musa menyesali dan Khidir memaafkannya. Lalu keduanya berjalan di tepi laut dan melihat anak kecil sedang bermain, tiba-tiba Nabi Khidir membekuknya hingga akhirnya meninggal dunia. Nabi Musa bertanya lagi, “Mengapa engkau bunuh jiwa tak berdosa?” Nabi Khidir berkata, “Aku telah katakan bahwa engkau tidak mampu bersabar denganku.” Nabi Musa meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dan tiba di suatu tempat dalam kondisi lapar. Namun, tak ada yang memberi mereka makan. Sesudah itu, keduanya menyaksikan sebuah rumah yang hampir roboh. Nabi Khidir segera memperbaikinya. Untuk ketiga kalinya Nabi Musa berkata, “Mintalah upah dari mereka atas upayamu.” Nabi Khidir berkata, “Ini adalah saat berpisah antara aku dan engkau karena engkau tak sabar.”

Dari perjanjian kesepakatan antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir, ternyata Nabi Musa tidak bisa menaatinya. Hanya karena Nabi Musa berpandangan pada yang ia lihat menurutnya adalah benar. Sehingga ia lupa akan sebuah syarat yang telah diberikan oleh Nabi Khidir kepadanya.

Setelah usai perjalanannya tadi, Nabi Khidir menjelaskan perihal apa yang telah dilakukannya waktu di perjalanannya tadi.

Pertama, adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.

Kedua, dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin dan aku khawatir bahwa dia akan mendorong orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.

“Dan aku berdoa supaya Tuhan mereka mengganti dengan anak yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam dari kasih sayangnya (kepada ibu dan bapaknya).”

Ketiga, adapun penjelasan tentang Nabi Khidir membangunkan rumah di suatu desa itu karena rumah itu adalah kepunyaan anak yatim yang di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedangkan ayahnya seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu.

“Dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri (tapi atas perintah Allah). Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.”

Kisah antara Nabi Musa dengan Nabi Khidir di atas diceritakan pada QS al-Kahfi ayat 62-82.

Dari kisah di atas pula kita bisa belajar tentang pentingnya taat pada seorang guru, dan tidak mudah untuk beranggapan salah dan benar dengan berdasar hanya pada apa yang telah kita lihat secara cepat dan terburu-buru.
Wallahu a'lam [].

BUYA HAMKA, ULAMA MULTITALENTA DAN BERJIWA BESAR


Siapa Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama? Jawabannya jelas, Prof Dr Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Ia merupakan keturunan dari pendiri Tarekat Naqsyabandiyah.

Anak cerdas dari Syekh Haji Abdul Karim Amrullah ini dikenal dengan berbagai sebutan. Mulai dari ulama, sufi, kiai, pendidik, sejarawan, budayawan, sastrawan, politikus, intelektual, jurnalis, hingga penulis produktif.

Bakat yang tak setengah matang di berbagai hal ini menjadikan Hamka pantas disebut ulama multitalenta dan besar jiwa. Dari waktu ke waktu, ratusan karya Hamka yang memengaruhi peradaban di Nusantara bahkan dunia. Sebab, ulama kelahiran Maninjau, Sumatera Barat pada 16 Februari 1908 ini memiliki ratusan karya lintas tema yang tak lekang diterpa zaman.

Ulama Multitalenta
Ada sekitar 120 buku lebih dari berbagai disiplin ilmu. Seperti tasawuf, filsasat, sejarah, sosiologi, politik dan sastra. Bahkan, Peter Riddel menulis, menelusuri sosok Hamka memang tidak akan pernah ada habisnya. Peter dalam buku Islam and The Malay-Indonesian World (2001:216) menyebut, Hamka adalah Hamzah Fansuri di masa modern.

Dalam buku Tasawuf Positif dalam Pemikiran Hamka, Mohammad Damami (2000: 72-73) menjelaskan kurun 1938-1941, Hamka aktif sebagai redaktur majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam. Selama rentang waktu itu, ia banyak menulis roman, padahal kegiatan itu dinilai menyalahi adat istiadat keulamaan tradisional. Kemudian, lahir reaksi cukup menghebohkan dari pihak yang tidak setuju.

Di antara roman fenomenal Hamka, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939), Dijemput Mamaknya (1939), Merantau ke Deli (1940), dan Si Sabariah (1957). Kumpulan cerita pendeknya Di dalam Lembah Kehidupan (1940). Karya sastranya dipandang terpengaruh pujangga Mesir, al-Manfaluti.

Pada 1960-an, timbul tuduhan terhadap roman Tenggelamnya Kapal van der Wijck sebagai plagiat dari roman Al-Phonse Karr (pengarang Perancis) yang telah disadur ke dalam bahasa Arab oleh al-Manfaluti. Rupanya, tuduhan itu hanya untuk menjatuhkan Hamka secara politis.

Dari tuduhan itu, nama Hamka melejit, pemikiran dan karya-karyanya dijadikan rujukan.Karya lain lintas tema yang berpengaruh meliputi Kenang-Kenangan Hidup, jilid 1-4 (1974), Akhlakul Karimah (1974), Ghirah dan Tantangan terhadap Islam (1982), Tafsir al-Azhar (1985), Tasauf Perkembangan dan Pemurniannya (1986), Sejarah Umat Islam, jilid 1-4 (1950) dan lainnya. Deretan karya-karya di atas hanya bagian kecil dari ratusan karya Hamka yang terserak.

Peran besar terhadap eskalasi kehidupan beragama dan bernegara ia titihkan ke dalam berbagai wadah di Nusantara ini. Tak hanya lewat media Pedoman Masyarakat dan organisasi Muhammadiyah, namun juga Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Pada tahun 1924 Hamka berangkat ke Jawa. Kota tujuan pertama Yogyakarta, di mana Muhamamdiyah lahir di sana. Hamka mendapatkan kesempatan mengikuti kursus-kursus di Muhammadiyah dan Syarikat Islam. Di kota ini Hamka bertemu dengan Ki Bagus Hadikusumo dan belajar tafsir Alquran.

Hamka juga bertemu HOS Cokroaminoto, dan mendengar ceramahnya tentang Islam dan Sosialisme. Ia juga bertukar pikiran dengan Haji Fakhruddin, Syamsul Rizal, tokoh Jong Islameten Bond. “Selanjutnya ia melakukan pengembaraannya ke Pekalongan selama lebih kurang enam bulan dan bertemu A.R. Sutan Mansur, menantu ayahnya yang menetap di Pekalongan,” tulis Azyumardi Azra dalam buku Islam Substanstif: Agar Umat Tidak Jadi Buih(2000: 114).

Tahun 1927, ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadat haji. Saat kembali ke Nusantara, ia tinggal di Medan, Sumatra Utara. Sejak 1929, Hamka aktif di Muhammadiyah. Ia aktif mengisi Kongres Muhammadiyah ke-18 tahun 1929 di Solo, di Bukittinggi pada 1930, dan Kongres Muhammadiyah ke-20 tahun 1931 di Yogyakarta.

Pada 1931, usai membuka cabang Muhammadiyah di Bengkalis, ia dipercayakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mempersiapkan Kongres Muhammadiyah ke-21 di Makassar. Hamka pun fokus memimpin Muhammadiyah dan melanjutkan dakwahnya sampai mati.

Kurun 1936-1942, ‘Si Bujang Jauh’ ini aktif menulis dan membesarkan majalah Pedoman Masyarakat. Namun pada 13 Maret 1942 karena Jepang mengambil alih kekuasaan penjajah Belanda dan menduduki Medan, Pedoman Masyarakat berhenti terbit.

Pada bulan Desember 1949, bersama keluarganya, Hamka ke Jakarta. Lantaran kecerdasan dan karyanya, ia mendapatkan gelar doktor kehormatan. “Pada tahun 1959, ia memperoleh gelar kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas al-Azhar. Sebelas tahun kemudian, pada 1976, gelar yang sama ia dapat dari Universitas Kebangsaan Malaysia,” demikian yang tertulis dalam Ensiklopedi Islam Indonesia oleh Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah (1992: 294).

“Pada usia 16 tahun, saya diangkat menjadi Datuk menurut adat gelar pusaka saya ialah Datuk Indomo. Sebab itu, sejak usia 12 tahun saya dihormati secara adat. Lantaran itu, sangat jarangkan orang mengucapkan kata-kata kasar di hadapan saya. Kemudian, saya berangsur dewasa. Saya campuri banyak sedikitnya perjuangan menegakkan masyarakat bangsa, dari segi agama, karang-mengarang, pergerakan Islam, Muhammadiyah, dan lain-lain. Pada kurun 1959, Al Azhar University memberi saya gelar Doctor Honoris Causa, karena dianggap salah seorang ulama terbesar di Indonesia,” tulis Hamka dalam buku Tasauf Modern (1983: xi).

Tak berhenti di situ, Hamka dikukuhkan menjadi guru besar oleh Universitas Moestopo. Namanya diabadikan pada Universitas Hamka milik Muhammadiyah. Lantaran banyak jasanya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengukuhkan Hamka sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 8 November 2011.

Ketua MUI Pertama
Ulama yang berumur 73 tahun ini dikenal sebagai tokoh plural. Meski terkenal tegas dan kokoh pendirian, Hamka sangat menghargai pendapat. Saat menjadi imam salat subuh di masjid NU yang biasanya ia tak memakai qunut, ia dengan pluralitasnya memakai qunut. Kebesaran hati seperti ini mengantarkannya menjadi Ketua MUI pertama kali.

Tanggal 26 Juli 1975 menjadi sejarah bagi Indonesia dan Hamka. Sebab, ia diangkat menjadi Ketua MUI pertama kali secara aklamasi. Sebagai ulama sufi, Buya Hamka memiliki tanggungjawab besar atas jabatan tertinggi di MUI.

Saat menjabat, Hamka mengeluarkan fatwa kontroversial tentang larangan perayaan Natal. Fatwa MUI tertanggal 7 Maret 1981 itu melarang umat Islam mengikuti perayaan Natal. Ada pendapat, nama Buya Hamka dicatut dalam keputusan fatwa ini, dan ada salah paham dalam membaca fatwa tersebut.

Buya Hamka tak melarang umat Islam mengucapkan “Selamat Natal”. Pendapat lain, fatwa MUI itu mengharamkan mengikuti upacara Natal bagi umat Islam. Inti fatwa itu, umat Islam hanya dilarang mengikuti perayaan Natal. Kesalahpahaman ini berlanjut hingga Menteri Agama Alamsyah Ratu Prawiranegara kala itu meminta MUI mencabut fatwa tersebut.

Alamsyah merasa disisihkan dan tersinggung. Ia tak menyangka fatwa itu beredar di kalangan umum. Fatwa itu juga dilihat sebagai ancaman bagi keharmonisan antaragama yang tengah dipromosikan era Orde Baru. Alamsyah pun menemui MUI, dan menyatakan akan mengundurkan diri.

MUI langsung menjawab dengan mengeluarkan surat ditandatangani Hamka yang menyatakan menarik peredaran fatwa tersebut, tetapi tidak mencabut fatwanya. Di tengah kontroversi, Hamka akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari MUI. “Tidak logis apabila Menteri Agama yang berhenti. Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” tegas Hamka (Suaramuhammadiyah.id, 13/1/2016).

Dalam buku Mengenang 100 Tahun Hamka, Shobahussurur (2008) dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mencatat perkataan Hamka: “Masak iya saya harus mencabut fatwa,” kata Hamka saat itu. Hamka sangat konsisten memegang teguh fatwa ketika ia yakin sesuai dengan Alquran dan Hadis. Lantaran situasi politik, berbagai desakan, akhirnya Hamka pun mencabut fatwa itu.

Hamka memang konsisten menegakkan prinsip. Meski demikian, sebenarnya dalam kasus ini ada kesalahpahaman antara MUI dan Menteri agama kala itu karena kurang komunikasi atas fatwa Natal. Padahal, Komisi Fatwa MUI kala itu menggodok masak bersama kiai, ulama, dan ormas NU, Muhammadiyah, Majelis Dakwah Islam Golkar, dan Sarekat Islam.

Bagi Hamka, menjadi Ketua MUI pertama banyak tantangan. Namun ia kuat dalam memegang prinsip dan tak takut mengeluarkan fatwa untuk kebenaran. Sejak aktif di Muhammadiyah, Hamka pernah mengeluarkan fatwa haram menikah bagi Bung Karno yang menjadi presiden kala itu. Lantaran fatwa tersebut dan kritik pedas Hamka pada pemerintah karena dekat dengan PKI, akhirnya mengantaraknnya dimasukkan ke dalam bui.

Rosnani Hashim dalam artikel Hamka Intellectual and Social Transformation of the Malay World, menyebut penjara merupakan berkah bagi Hamka, karena di dalam sel beliau melanjutkan untuk menulis Tafsir al-Azhar. Pada saat yang sama tafsirnya diterbitkan Malaysia yang mengantarkannya diberi gelar doktor kehormatan pada 1976 (Rosnani Hashim, 2010: 227).

Hidup dalam bui tak menjadikan Hamka mati. Selama ia dipenjara, ternyata ia berhasil menyelesaikan karya monumentalnya, Tafsir al-Azhar dari juz 1-30. S Sinansari Ecip dalam artikel Hamka, Sang Pelepas Dahaga menyatakan tafsir tersebut sebagian besar dikerjakan sewaktu Hamka dalam tahanan Orde Lama karena difitnah. Pemfitnahnya mengakui sendiri pada Hamka karena terpaksa dan Hamka memaafkannya. Selain itu, juga ada buku langka, Sejarah Umat Islam Indonesia, yang sayang, kini tidak ada yang meneruskannya (Buyahamka.org, 6/9/2013).

Ulama Besar Jiwa
Meski dimasukkan ke dalam penjara, pada 16 Juni 1970, ajudan presiden Soeharto datang ke rumah Buya membawa secarik kertas, kertas yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa kebahagian Hamka. Pesan tersebut dari Soekarno, orang yang belakangan sangat ia rindukan.

Dengan seksama Buya Hamka membaca pesan tersebut. “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku,” kata Soekarno seperti ditulis dalam artikel Soekarno dan Hamka, Kisah Penguasa Yang Mendzalimi Ulama yang ditulis Nur Indah Yusari (Sangpencerah.id, 6/2/2017).

Hamka juga sangat besar jiwa kepada sastrawan Pramoeda Ananta Toer. Semasa hidup mereka berdua, Pram pernah menzalimi Hamka. Pram yang sedang jaya-jayanya tahun 1960-an sampai menjelang pemberontakan G-30-S/PKI dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) membantai habis Hamka.

Pram tidak hanya menyerang karya Hamka, namun juga pribadinya. Buya juga sempat dijebloskan ke penjara oleh Soekarno di masa Demokrasi Terpimpin dengan tuduhan berencana menjatuhkan presiden. Tuduhan tersebut tidak terbukti, dan setelah 2 tahun 4 bulan Buya dibebaskan.

Dalam artikel “Saat Buya Hamka Didakwa Melakukan Plagiat”, disebutkan Harian Bintang Timur lewat lembaran Lentera yang dinakhodai Pramoedya Ananta Toer, menabuh gendang perang terbuka dengan mengobarkan kasus plagiasi Hamka. Muhidin M. Dahlan membongkar tumpukan koran Bintang Timur yang merekam kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tersebut, dan menerbitkannya dengan tajuk Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964,” tulis Irfan Teguh di Tirto.id, (29/3/2018).

Pram di usia tuanya, mengakui kesalahan pada Hamka. Pram dengan rendah hati meminta maaf pada Hamka. Pram juga mengirim putri sulungnya pada Buya Hamka untuk belajar agama dan menyahadatkan calon menantunya, Daniel. Hamka pun dengan besar dan senang hati membimbing Daniel masuk Islam.

“Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka.”

Demikian dikatakan Pramoedya Ananta Toer dalam buku Ayah… Kisah Buya Hamka (Irfan Hamka, 2013: 265).

Menjelang wafatnya, ulama yang lahir dari pasangan Haji Rasul dan Safiyah ini mengabdikan diri sebagai imam Masjid Al-Azhar Jakarta. Hamka meninggal dunia pada hari Jumat, 24 Juli 1981 bertepatan dengan hari ke-22 bulan Ramadan 1401 H dalam usia 73 tahun. Meninggal di bulan Ramadan, merupakan ‘hadiah’ Allah untuk Hamka.

Hamka berjuang untuk Indonesia, Islam, sastra, dan kebudayaan. Adakah pemuda NU, Muhammadiyah, atau siapa saja yang melanjutkan jejaknya?

Sanad : (Klik ini)